KESELAMATAN (Pelajaran 1) by Dr. Erastus Sabdono

Apakah Keselamatan itu?

Pengajaran ini merupakan jantung dari pengajaran iman Kristen. Keselamatan dalam dunia pendidikan dikenal dengan  “soteriologi”. Soter = keselamatan, logia = ilmu. Soteriologi berarti studi atau pengertian mengenai seluk beluk keselamatan.

Menjadi pokok masalah yang sangat pelik dalam sejarah gereja, yaitu:

  1. Apakah Keselamatan itu sebenarnya?
  2. Bagaimana seseorang bisa mengalami keselamatan?
  3. Apakah ada keselamatan dalam kehidupan orang non-Kristen?
  4. Bagaimana nasib kekal mereka yang tidak mendengar Injil atau yang hidup sebelum jaman Tuhan Yesus?
  5. Apakah keselamatan seseorang dapat hilang?

Pengertian umum Keselamatan, dari akar kata “selamat”- terhindar dari segala sesuatu yang dianggap sebagai bahaya, malapetaka dan musibah dan hal ini biasanya dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan fisik atau kebutuhan jasmani. Dalam lingkungan Kristen berbicara tentang keselamatan hampir selalu dihubungkan dengan pengorbanan Kristus yang menebus manusia dari dosa, jarang dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan fisik atau jasmani. Tetapi dewasa ini terdapat fenomena jelas, persepsi yang dibangun dalam pikiran banyak orang Kristen, bila berbicara mengenai keselamatan memiliki tekanan pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Ini persepsi yang salah dan bisa menyesatkan sebab akan membuat seseorang “kehilangan fokus keselamatan”.
Apakah keselamatan tidak bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani? Tentu saja bertalian, tetapi pemenuhan kebutuhan jasmani bukanlah sentralnya atau hal yang mayor. Keselamatan dalam iman Kristen pada dasarnya upaya Tuhan mengembalikan manusia kepada maksud rencana Allah menciptakan manusia itu atau kepada rancangan semula. Ini adalah upaya Tuhan mendudukan manusia pada tempatnya. Ini berarti keselamatan juga sebuah proses. Dari pihak manusia keselamatan juga dapat berarti perjuangan melawan dosa (Ibr 12:1-4, Pil 2:12), bahwa orang percaya harus mengerjakan keselamatan  dengan takut dan gentar.


Manusia sebagai objek keselamatan.

Hakekat manusia harus berpijak pada Kej 1:26-27, bahwa manusia diciptakan menurut “gambar dan rupa” Allah (in His own image), dalam bahasa Ibrani adalah ‘tselem’ dan ‘demuth’. Tselem = gambar yg asli, patung atau model. Demuth = tembusan. Dalam Kej 1:26-27, diartikan tunggal bahwa manusia segambar dengan Allah (latin: Imago Dei). Dalam PB – “eikoon theou”.

 

Penjelasan serupa dan segambar dengan Allah adalah:

1. Karena manusia diciptakan lebih mulia dari segala sesuatu yang Allah ciptakan.

Ia adalah citra dari segala ciptaan Allah. Dalam diri manusia dilengkapi unsur-unsur yang tidak ada di dalam makhluk lain, unsur-unsur ini juga terdapat dalam diri Allah. Manusia memiliki kecerdasan (rasio atau intelektual). Hal ini membuat manusia mampu berpikir, berlogika, menganalisis dll. Manusia memiliki perasaan dan emosi, hal inilah yang membuat manusia dapat memiliki rasa sayang, benci, cemburu, cinta, marah dll. Manusia memiliki kemampuan untuk bersekutu dengan Allah, melayani dan mengabdi kepada Allah. Kehendak manusia ini adalah kehendak bebas (latin: Liberum Arbitrium), maksudnya manusia dengan kehendak bebasnya dapat memilih mematuhi Tuhan atau memberontak terhadap-Nya.

Dalam Kej 3 bukti jelas bahwa manusia adalah makhluk yang bebas. Oleh karena dosa, manusia telah menjadi manusia yang kehilangan kemuliaan Allah, artinya gambar Allah telah rusak ( Rom 3:23). Unsur-unsur yang dimiliki manusia tidak lagi digunakan untuk melayani dan mengabdi kepada Tuhan, melainkan manusia memberontak kepada Allah dalam seluruh keinginan, pikiran dan perasaannya. Kecenderungan manusia dosa semata-mata. Karena kejatuhannya dalam dosa, manusia tidak mampu mencapai kesucian Allah. Karakter manusia menjadi rusak, tidak seperti sebelum jatuh dalam dosa. Manusia tidak mampu mencapai standar kesucian Allah.

Keselamatan dalam Yesus Kristus dimaksudkan agar karakter manusia kembali diperbaiki. Inilah proses pemulihan gambar Allah (latin: Restitutio Imaginis Dei). Dalam proses keselamatan Tuhan bukan saja hendak menyelamatkan jiwa dan roh dari neraka, tetapi juga karakter atau watak manusia. Justru keselamatan seseorang akan nyata dalam perubahan karakter atau watak secara bertahap dan terus menerus. Keselamatan dalam Yesus Kristus mengembalikan fungsi unsur-unsur (pikiran, perasaan dan kehendak) tersebut sesuai dengan kehendak Allah.

2. Manusia memiliki unsur kekekalan yang dari Allah (Kej 2:7).

Ketika manusia diciptakan, kepadanya Tuhan menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya (ibrani: nephesy) yaitu unsur kekekalan dalam diri manusia. Betapa mahal jiwa manusia sebab jiwa itu kekal. Pemberontakan membawa manusia kepada kematian. Mati yang dimaksud bukanlah seperti orang tidur. Karena setelah mengalami kematian secara jasmani manusia “mengalami kesadaran kekal, yaitu sengsara kekal atau bahagia kekal”. Oleh karena itu kita mengerti bila satu jiwa bertobat maka malaekat di sorga bersukacita (Luk 15:7). Akibat dosa manusia binasa, manusia hidup dalam bayang-bayang maut neraka kekal (Rom 6:23). Kematian berarti keterpisahan dengan Allah. Hidup manusia menjadi tidak berarti, tidak memiliki nilai, inilah kebinasaan. Dalam keselamatan, manusia diperdamaikan dengan Tuhan, itulah hidup yang kekal, yaitu hidup yang berkualitas (Yoh 17:3).
Keselamatan membangun sebuah kehidupan yang bersekutu dengan Tuhan, yang menggiring seseorang memiliki kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah, dan ini sebuah kehidupan yang bermutu.
Keselamatan mengembalikan manusia bersekutu dengan Tuhan, bergaul & berinteraksi dengan penciptanya. Inilah persiapan memasuki kerajaan kekal atau yang sering kita kenal sebagai sorga. Orang yang suka bersekutu dengan Tuhan hari ini akan bersekutu dengan Tuhan di keabadian, sebaliknya mereka yang tidak bersekutu dengan Tuhan hari ini tidak akan pernah bersekutu dengan Tuhan selama-lamanya.

3. Manusia memiliki hakekat sebagai manusia yang bekerja.

Manusia yang aktif berkarya sebagai mana Allah adalah Allah yang aktif berkarya (Kej 2:15). Pola rencana kekal itu sudah ditunjukkan di kitab Kejadian, yaitu manusia diciptakan utk “bersekutu, melayani dan mengabdi kepada Tuhan”. Manusia dijadikan kawan sekerja Allah (1 Kor 3:9). Inilah tujuan hidup satu-satunya yang manusia boleh miliki. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan atau makhluk lain. Hewan dan makhluk lain bergerak hidup hanya sekedar memenuhi siklus kehidupan sesuai dengan habitatnya. Tetapi manusia bekerja dengan kerelaan, kesadaran dan kesengajaan sebagai pengabdian kepada Tuhan, sebagai kawan sekerja Allah yang satu hakekat dengan Dia dalam kerja. Oleh karena dosa, manusia tidak lagi hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan. Sebaliknya manusia hidup dalam persekutuan dengan dunia dan iblis, memberontak terhadap Allah. Selanjutnya manusia melayani diri sendiri dan mengabdi kepada dosa. Manusia telah kehilangan maksud dan tujuan dirinya diciptakan.

Bila seseorang memiliki keselamatan dalam dirinya, maka ia akan menunjukkan buah pertobatan dan kelahiran barunya dengan pelayanan yang benar kepada Tuhan. Pelayanan ini adalah prinsip penting dalam kehidupan mereka yang hendak dipermuliakan bersama dengan Tuhan. Pelayanan inilah salib yang harus dipikul. Salib pada dasarnya adalah penderitaan yang dipikul demi kebahagian orang lain.
Orang percaya harus mengerti dan mengalami menderita bagi pekerjaan-Nya (Pil 1:29). Keselamatan seseorang akan ditandai kerelaan seseorang menderita bagi Tuhan. Hanya orang yang menderita bersama Tuhan yang akan dipermuliakan bersama Tuhan (Rom 8:17).

NEXT EVENT :

Sunday Service

CONTINUE READING OR

CHURCH SERVICES

 

Sunday Service - 9:57 am
Kids Church - 11:00 am
Young Adult - 9:00 am, Sat @ Eastlakes

OUR LOCATION

 

Randwick Public School
Cowper Street, Randwick NSW 2031 - Australia

Contents Copyright @ Rhema Church of God
ENGINEERED AND DESIGNED BY Learning Ecosystem